Senin, 17 November 2014

laporan ekstraksi sampel fitokimia (winarti M. Nawir)

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
            Sejak zaman dahulu, tanaman sering digunakan sebagai obat. Pada waktu itu orang belum mengelolanya secara sempurna seperti pada zaman sekarang ini. Pada saat itu orang hanya tahu suatu khasiat tanaman berdasarkan dari cerita orang yang lebih tua seperti dari ibu ke anaknya. Suatu tanaman obat sering mempunyai khasiat yang berbeda dari tiap daerah.
Pada zaman sekarang ini orang kembali lagi menggeluti bahan alam sebagai bahan penting dalam membuat obat. Para ahli sekarang ini telah memulai meneliti kembali tanaman obat untuk mengetahui khasiat yang lebih mendalam dari tanaman tersebut.
Di daerah-daerah pedalaman, banyak masyarakat yang masih menggunakan tumbuh-tumbuhan yang mereka anggap mempunyai khasiat untuk pengobatan untuk beberapa penyakit tertentu, tanpa pengetahuan dasar. Ada beberapa kasus, dimana masyarakat menggunakan suatu obat, yang ternyata setelah diketahui zat aktifnya melalui ekstraksi dan identifikasi komponen kimia, ternyata memberikan efek yang berlawanan, hal ini tentunya membahayakan bagi jiwa manusia.
Dari alasan tersebut di atas, maka dianggap perlu pengetahuan yang cukup untuk mengenal berbagai macam tumbuhan yang berkhasiat obat, mulai dari morfologi, kegunaan, prinsip-prinsip ekstraksi, isolasi dan identifikasi komponen kimia yang terdapat dalam suatu simplisia, khususnya bagi seorang farmasis. Dan pada laporan ini, akan diidentifikasi komponen kimia sampel daun tumbuhan X, dengan terlebih dahulu di ekstraksi.
B. Maksud dan Tujuan Praktikum
a.  Maksud
1.                Adapun maksud dari praktikum ini ialah untuk melakukan ekstraksi pada sampel serbuk daun raja dengan metode soxlhetasi dan perkolasi.
2.                Untuk membandingkan hasil ekstrak dari metode panas (soxlhetasi) dan metode dingin (perkolasi).
b. Tujuan
1.    Adapun tujuan dari praktikum ini ialah untuk menentukan % rendamen hasil ekstraksi dari metode panas (soxhletasi) dan metode dingin (perkolasi).
2.    Untuk membandingkan % rendamen hasil ekstraksi dari metode panas (soxlhetasi) dan metode dingin (perkolasi)




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.     Uraian Umum Ekstraksi
1.     Pengertian (Harbone, 1987; Dirjen POM, 1986)
                 Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang telah ditentukan. Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat secara perkolasi. Seluruh perkolat biasanya dipekatkan secara destilasi dengan menggunakan tekanan (Ditjen POM, 1995).
                 Ekstraksi adalah penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dari bagian tanaman obat, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk biota laut. Zat-zat aktif terdapat di dalam sel, namun sel tanaman dan hewan berbeda demikian pula ketebalannya, sehingga diperlukan metode ekstraksi dengan pelarut tertentu dalam mengekstraksinya.



2.     Pembagian Jenis Ekstraksi
a.      Ekstraksi secara dingin
                        Proses ektraksi secara dingin pada prinsipnya tidak memerlukan pemanasan. Hal ini diperuntukkan untuk bahan alam yang mengandung komponen kimia yang tidak tahan pemanasan dan bahan alam yang mempunyai tekstur yang lunak. Yang termasuk ekstraksi secara dingin adalah (Ditjen POM, 1986) :
·      Metode maserasi
                 Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya (Ditjen POM : 1986).
                        Metode ini digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang seperti benzoin, stiraks dan lilin. Penggunaan metode ini misalnya pada sampel yang berupa daun, contohnya pada penggunaan pelarut eter atau aseton untuk melarutkan lemak/lipid (Ditjen POM, 1986).
                 Metode Maserasi umumnya menggunakan pelarut non air atau pelarutnon-polar. Teorinya, ketika simplisia yang akan dimaserasi direndam dalam  pelarut  yang dipilih, maka ketika direndam, cairan penyai akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam sel yang penuh dengan zat aktif dan karena ada  pertemuan antara  zat  aktif  dan  penyari  itu terjadi proses pelarutan (zat aktifnyalarut dalam penyari) sehingga penyari yang masuk ke dalam sel tersebut akhirnya akan mengandung zat aktif, katakan 100%, sementara penyari yang berada di luarsel belum terisi zat aktif (0 %) akibat adanya perbedaan konsentrasi zat aktif didalam dan di luar sel ini akan muncul gaya difusi, larutan yang terpekat akan didesak menuju keluar berusaha mencapai keseimbangan konsentrasi antara zataktif di dalam dan di luar sel. Proses keseimbangan ini akan berhenti, setelah terjadi keseimbangan konsentrasi (istilahnya “jenuh”). Dalam kondisi ini, proses ekstraksi dinyatakan selesai, maka zat aktif didalam dan di luar sel akan memiliki konsentrasi yang sama, yaitu masing-masing 50%. Alat maserasi ditunjukkan pada gambar berikut (Anonim, 2007).
Gambar 1. (a) maserasi sederhana (b) maserasi yang dilengkapi pengaduk
https://html2-f.scribdassets.com/5tv3f7otc03ppqap/images/4-d6f3778d28.jpghttps://html2-f.scribdassets.com/5tv3f7otc03ppqap/images/4-d6f3778d28.jpg
Kelebihan dan kekurangan metode maserasi (anonim, 2007).
Kelebihan dari ekstraksi dengan metode maserasi adalah:
a). Unit alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana                         perendam 
b). Biaya operasionalnya relatif rendah
c). Prosesnya relatif hemat penyari dan tanpa pemanasan Kelemahan dari ekstraksi dengan metode maserasi adalah:
a)     Proses penyariannya tidak sempurna, karena zat aktif hanya mamputerekstraksi sebesar 50% saja 
b)     Prosesnya lama, butuh waktu beberapa hari.
·         Metode perkolasi
                        Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkanpenyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Prinsip ekstraksi dengan perkolasi adalah serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampel dalam keadaan jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan tekanan penyari dari cairan di atasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan gerakan ke bawah (Ditjen POM : 1986).
                        Ukuran percolator yang digunakan harus dipilih sesuai dengan jumlah bahan yang disari. Jumlah bahan yang disari tidak lebih dari 2/3 tinggi percolator. Percolator dibuat dari gelas, baja tahan karat atau bahan lain yang tidak saling mempengaruhi dengan obat atau cairan penyari.Percolator dilengkapi dengan tutup dari karet atau bahan lain, yang berfungsi untuk mencegah penguapan. Tutup karet dilengkapi dengan lubang bertutup yang dapat dibuka atau ditutup dengan menggesernya. Pada beberapa percolator sering dilengkapi dengan botol yang berisi cairan penyari yang dihubungkan ke percolator melalui pipa yang dilengkapi dengan keran. Aliran percolator diatur oleh keran. Pada bagian bawah, pada leher percolator tepat diatas keran diberi kapas yang di atur di atas sarangan yang dibuat dari porselin ataudi atas gabus bertoreh yang telah dibalut kertas tapisKapas yang digunakan adalah yang tidak terlalu banyak mengandung lemak. Untuk menampung perkkolat digunakan botol perkolat, yang bermulut tidak terlalu lebar tetapi mudah dibersihkan. Di bawah ini adalah gambar alat perkolasi (Sulaiman, 2011).
https://html2-f.scribdassets.com/5tv3f7otc03ppqap/images/9-f3e44d0d7c.jpg

Kelebihan dan Kekurangan Perkolasi (Sulaiman, 2011)
Kelebihan dari metode perkolasi adalah:
1. Tidak terjadi kejenuhan
2. Pengaliran meningkatkan difusi (dengan dialiri cairan penyari sehingga zatseperti terdorong untuk keluar dari sel)
Kekurangan dari metode perkolasi adalah:
1.Cairan penyari lebih banyak
2. Resiko cemaran mikroba untuk penyari air karena dilakukan secara terbuka.
b.    Ekstraksi secara panas
                          Ekstraksi secara panas dilakukan untuk mengekstraksi  komponen kimia yang tahan terhadap pemanasan seperti glikosida, saponin dan minyak-minyak menguap yang mempunyai titik didih yang tinggi, selain itu pemanasan juga diperuntukkan untuk membuka pori-pori sel simplisia sehingga pelarut organik mudah masuk ke dalam sel untuk melarutkan komponen kimia. Metode ekstraksi yang termasuk cara panas yaitu (Tobo :2001)
·      Metode soxhletasi
                        Soxhletasi merupakan penyarian simplisia secara berkesinambungan, cairan penyari dipanaskan sehingga menguap, uap cairan penyari terkondensasi menjadi molekul-molekul air oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia dalam klongsong dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa sifon. Proses ini berlangsung hingga penyarian zat aktif sempurna yang ditandai dengan beningnya cairan penyari yang melalui pipa sifon atau jika diidentifikasi dengan kromatografi lapis tipis tidak memberikan noda lagi. (Ditjen POM, 1986).
Gambar soxhlet
Kelebihan dan kekurangan soxhletasi
Metode soxhletasi memiliki kelebihan dan kekurangan pada prosesekstraksi.
Kelebihan:
a)    Dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang lunak dan tidaktahan terhadap pemanasan secara langsung.
b)    Digunakan pelarut yang lebih sedikit
c)    pemanasannya dapat diatur


kekurangan:
a)     Karena pelarut didaur ulang, ekstrak yang terkumpul pada wadah disebelah bawah terus-menerus dipanaskan sehingga dapat menyebabkan reaksi peruraian oleh panas. 
b)     Jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam wadah dan membutuhkan volume pelarut yang lebih banyak untuk melarutkannya.
c)     Bila dilakukan dalam skala besar, mungkin tidak cocok untuk menggunakan pelarut dengan titik didih yang terlalu tinggi (Keloko,2013).
·           Metode refluks
                        Metode refluks adalah termasuk metode berkesinambungan dimana cairan penyari secara kontinyu menyari komponen kimia dalam simplisia cairan penyari dipanaskan sehingga menguap dan uap tersebut dikondensasikan oleh pendingin balik, sehingga mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan dan jatuh kembali ke labu alas bulat sambil menyari simplisia. Proses ini berlangsung secara berkesinambungan dan biasanya dilakukan 3 kali dalam waktu 4 jam. (Ditjen POM : 1986)
             
https://html1-f.scribdassets.com/5tv3f7otc03ppqap/images/11-961001292d.jpg

Kelebihan dan Kekurangan Metode Refuks
                 Kelebihan dari metode refluks adalah digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yang mempunyai tekstur kasar, dan tahan pemanasan langsung (Anonim, 2011).
                 Kekurangan dari metode refluks adalah membutuhkan volume total pelarutyang besar,dan Sejumlah manipulasi dari operator (Mandiri, 2013).
·           Metode Destilasi Uap Air
                        Metode destilasi uap air diperuntukkan untuk menyari simplisia yang mengandung minyak menguap atau mengandung komponen kimia yang mempunyai titik didih tinggi pada tekanan udara normal, misalnya pada penyarian minyak atsiri yang terkandung dalam tanaman daun raja. Pada metode ini uap air digunakan untuk menyari simplisia dengan adanya pemanasan kecil uap air tersebut menguap kembali bersama minyak menguap dan dikondensasikan oleh kondensor sehingga terbentuk molekul-molekul air yang menetes ke dalam corong pisah penampung yang telah diisi air. Penyulingan dilakukan hingga sempurna (Ditjen POM : 1986).
                        Prinsip fisik destilasi uap yaitu jika dua cairan tidak bercampur digabungkan, tiap cairan bertindak seolah – olah pelarut itu hanya sendiri, dan menggunakan tekanan uap. Tekanan uap total dari campuran yang mendidih sama dengan jumlah tekanan uap parsial, yaitu tekanan yang digunakan oleh komponen tunggal, karena pendidihan yang dimaksud yaitu tekanan uap total sama dengan tekanan atmosfer, titik didih dicapai pada temperatur yang lebih rendah daripada jika tiap – tiap cairan berada dalam keadaan murni (Ditjen POM : 1986).
                 Kelebihan destilasi uap-air yaitu alatnya sederhana tetapi bisa menghasilkan minyak atsiri dalam jumlah yang cukup banyak sehingga efisien dalam penggunaan minyak yang dihasilkan tidak mudah menguap karena pembawanya adalah air yang tidak mudah menguap pada suhu kamar.                          Sedangkan kelemahannya metode ini tidak cocok untuk minyak atsiri yang rusak oleh panas uap air, serta membutuhkan waktu destilasi yang lebih panjang untuk hasil yang lebih banyak (Ketaren, 1985).
·         Metode infundasi
                 Merupakan metode penyarian dengan cara menyari simplisia dalam air pada suhu 90OC selama 15 menit. Infundasi merupakan penyarian yang umum dilakukan untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Penyarian dengan metode ini menghasilkan sari/ekstrak yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh kuman dan kapang. Oleh sebab itu, sari yang diperoleh dengan cara ini tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam (Ansel, 1989).
Sediaan yang dibuat dengan metode infundasi
                 Infus / rebusan obat:sedian air yang dibuat dengan mengextraksi simplicia nabati  dengan air suhu 90° C selama 15 menit,yang mana extraksinya dilakukan secara infundasi  Penyarian adalah peristiwa memindahkan zat aktif yang semula di dalam sel ditarik oleh cairan penyanyi sehingga zat aktif larut dalam cairan penyari. Secara umum penyarian akan bertambah baik apabila permukaan simplisia yang bersentuhan semakin luas (Ansel, 1989).
                 Umumnya infus selalu dibuat dari simplisia yang mempunyai jaringan lunak,yang mengandung minyak atsiri,dan zat-zat yang tidak tahan pemanasan lama (Depkes RI.1979).
Keuntungan Dan kekurangan Metode Infundasi
a.  Keuntungan
 1. Unit alat yang dipakai sederhana,
 2. Biaya operasionalnya relatif rendah
b.  Kerugian
1. zat-zat yang tertarik kemungkinan sebagian akan mengendap kembali,apabila kelarutannya sudah mendingin.(lewat jenuh)
2.  hilangnya zat-zat atsiri
3.  adanya zat-zat yang tidak tahan panas lama,dismping itu simplisia yang mengandung zat-zat albumin tentunya zat ini akan menggumpal dan menyukarkan penarikan zat-zat berkhasiat tersebut.




B.   Uraian Pelarut
            Jenis pelarut berkaitan dengan polaritas dari pelarut tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses ekstraksi adalah senyawa yang memiliki kepolaran yang sama akan lebih mudah tertarik/ terlarut dengan pelarut yang memiliki tingkat kepolaran yang sama. Berkaitan dengan polaritas dari pelarut, terdapat tiga golongan pelarut yaitu (Rohman, 2007):
a.   Pelarut polar
                   Memiliki tingkat kepolaran yang tinggi, cocok untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang polar dari tanaman. Pelarut polar cenderung universal digunakan karena biasanya walaupun polar, tetap dapat menyari senyawa-senyawa dengan tingkat kepolaran lebih rendah. Salah satu contoh pelarut polar adalah: air, metanol, etanol, asam asetat.
b.  Pelarut semipolar
                   Pelarut semipolar memiliki tingkat kepolaran yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut polar. Pelarut ini baik untuk mendapatkan senyawa-senyawa semipolar dari tumbuhan. Contoh pelarut ini adalah: aseton, etil asetat, kloroform
c.   Pelarut nonpolar
                   Pelarut nonpolar, hampir sama sekali tidak polar. Pelarut ini baik untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang sama sekali tidak larut dalam pelarut polar. Senyawa ini baik untuk mengekstrak berbagai jenis minyak. Contoh: heksana dan eter.
Macam – macam cairan penyari (Rohman, 2007) :
a.    Air
                   Termasuk yang mudah dan murah dengan pemakaian yang luas, pada suhu kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat misalnya : garam-garam alkaloida, glikosida, asam tumbuh-tumbuhan, zat warna dan garam-garam mineral.
                   Umumnya kenaikan suhu dapat menaikkan kelarutan dengan pengecualian misalnya pada condurangin, Ca hidrat, garam glauber dll. Keburukan dari air adalah banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-zat tersebut meripakan makanan yang baik untuk jamur atau bakteri dan dapat menyebabkan mengembangkan simplisia sedemikian rupa, sehingga akan menyulitkan penarikan pada perkolasi.
b.   Etanol
                   Etanol hanya dapat melarutkan zat-zat tertentu, Umumnya pelarut yang baik untuk alkaloida, glikosida, damar-damar, minyak atsiri tetapi bukan untuk jenis-jenis gom, gula dan albumin. Etanol juga menyebabkan enzym-enzym tidak bekerja termasuk peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri. Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna sebagai pengawet. Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari pada air sendiri.
c.    Gycerinum (Gliserin)
                   Terutama dipergunakan sebagai cairan penambah pada cairan menstrum untuk penarikan simplisia yang mengandung zat samak. Gliserin adalah pelarut yang baik untuk tanin-tanin dan hasil-hasil oksidanya, jenis-jenis gom dan albumin juga larut dalam gliserin. Karena cairan ini tidak atsiri, tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-ekstrak kering.
d.   Eter
                   Sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama.
e.   Solvent Hexane
                   Cairan ini adalah salah satu hasil dari penyulingan minyak tanah kasar. Pelarut yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak. Biasanya dipergunakan untuk menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak diperlukan, sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik, misalnya strychni, secale cornutum.
f.     Acetonum
                   Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam, pelarut yang baik untuk bermacam-macam lemak, minyak atsiri, damar. Baunya kurang enak dan sukar hilang dari sediaan. Dipakai misalnya pada pembuatan Capsicum oleoresin (N.F.XI)

g.   Chloroform
                   Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam, karena efek farmakologinya. Bahan pelarut yang baik untuk basa alkaloida, damar, minyak lemak dan minyak atsiri.
h. Diklorometana
                        Diklorometana (CH2Cl2) adalah pelarut organik sering menggunakan untuk mengekstrak senyawa organik dari sampel. Ini adalah racun tapi lebih sedikit daripada kloroform.
i.    Isopropil
                   Isopropil adalah nama populer dari senyawa kimia dengan rumus molekul C3H8O atau C3H7OH. Senyawa ini merupakan senyawa tak berwarna, mudah terbakar dengan bau menyengat. Senyawa ini merupakan alkoholsekunder yang paling sederhana, dimana atom karbon yang mengikat gugus alkohol juga mengikat 2 atom karbon lain (CH3)2CHOH. Merupakan isomerstruktur dari 1-propanol.
j.   N- butanol
                        N-butanol dapat digunakan sebagai bahan bakar di mesin pembakaran dalam. Karena rantai hidrokarbonnya lebih panjang, maka bersifat pada umumnya bersifat non-polar. Butanol lebih mirip bensin daripada etanol. Bahan bakar butanol sudah pernah didemontrasikan di mobil berbahan bakar bensin tanpa ubahan apapun.[1] Butanol dapat diproduksi dari biomassa(disebut "biobutanol") sama seperti bahan bakar fosil (sebagai "petrobutanol"),, tapi biobutanol dan petrobutanol memiliki ciri-ciri kimia yang sama.
k. Etill asetat
                        Etil asetat merupakan pelarut polar menengah yang mudah menguap, tidak beracun dan tidak higrokopis. Etil asetat dapat melarutkan air hingga 30% dan larut dalam air hingga kelarutan 8% pada suhu kamar. Kelarutannya meningkat pada suhu yang lebih tinggi, namun senyawa ini tidak stabil dalam air mengandung basa atau asam.



















BAB III
PROSEDUR KERJA
A.     Alat dan Bahan
1.     Alat
Alat yang digunakan yaitu Timbangan, Batang pengaduk, Corong, dan cawan porselin, gelas kimia dan gelas ukur.
2.     Bahan
Bahan yang digunakan yaitu aquadest, etanol 96%, kertas saring dan alumunimfoil.
B.    Cara Kerja
1.     Perkolasi
                 Simplisia atau bahan yang diekstraksi secara perkolasi diserbuk dengan derajat halus yang sesuai dan ditimbang kemudian dimaserasi selama 3 jam, kemudian massa dipindahkan kedalam perkolator dan cairan penyari ditambahkan hingga selapis diatas permukaan bahan, didiamkan selama 24 jam. Setelah itu kran perkolator dibuka dan cairan penyari dibiarkan mengalir dengan kecepatan 1 ml permenit. Cairan penyari ditambahkan secara kontinyu hingga penyarian sempurna. Perkolat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan dengan rotavapor kemudian dilakukan pengujian selanjutnya.

2.     Soxhletasi
                 Simplisia atau bahan yang akan diekstraksi terlebih dahulu diserbukkan dan ditimbang kemudian dimasukkan kedalam klonsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa (tinggi sampel dalam klonsong tidak boleh lebih tingggi dari pipa siphon). Selanjutnya labu alas bulat diisi dengan cairan penyari yang sesuai, kemudian ditempatkan diatas water bath atau healting mantel dan diklem dengan kuat, kemudian klonsong yang telah dilapisi sampel dipasag pada labu alas bulat yang dikuatkan dengan klem, dan cairan penyari ditambahkan untuk membasahi sampel yang ada dalam klonsong (diusahakan tidak terjadi sirkulasi). Mantel disambungkan kesumber arus listrik kemudian distel pada suhu yang sesuai. Biarkan cairan penyari tersirkulasi sampai ekstraksi berlangsung sempurna. Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan pada alat rotavapor.
                








BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.   Tabel Pengamatan

Pengamatan
Metode perkolasi
Metode sokletasi
Bobot Sebelum diekstraksi
50 gram
50 gram
Bobot Ekstrak Kering
7,3386 gram
3,2535 gram
Pesentase Ekstrak (%) / Rendamen
14,68 %
6,507 %
Jumlah Cairan Penyari
500 ml
500 %






B.    Pembahasan
   Ekstraksi adalah suatu proses penyarian atau penarikan senyawa kimia yang terdapat didalam bahan alam atau berasal dari dalam sel dengan menggunakan pelarut dan metode yang tepat. Ekstrak adalah hasil dari proses ekstraksi, bahan yang diekstraksi merupakan bahan alam, dimana ektraksi memiliki prinsip umum yaitu difusi dan osmosis.
   Tujuan dilakukan percobaan ekstraksi adalah untuk memperoleh ekstrak kental etanol senyawa yang terkandung pada sampel daun raja yang selanjutnya akan digunakan dalam praktikum berikutnya.
   Pada praktikum ini digunakan metode soxhletasi dan perkolasi karena untuk mengetahui perbandingan hasil ekstrak yang diperoleh dari metode tersebut.
   Prinsip ekstraksi dengan perkolasi adalah serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampel dalam keadaan jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan tekanan penyari dari cairan di atasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan gerakan ke bawah.
    Prinsip kerja dari soxhletasi yaitu dengan cara cairan penyari dipanaskan sehingga menguap, uap cairan penyari terkondensasi menjadi molekul-molekul air oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia dalam klongsong dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa sifon. Proses ini berlangsung hingga penyarian zat aktif sempurna yang ditandai dengan beningnya cairan penyari yang melalui pipa sifon atau jika diidentifikasi dengan kromatografi lapis tipis tidak memberikan noda lagi.
   Etanol digunakan sebagai pelarut karena etanol termasuk ke dalam pelarut polar, sehingga sebagai pelarut diharapkan dapat menarik zat-zataktif yang juga bersifat polar. Etanol digunakansebagai cairan penyari karena lebih selektif, kapang dan khamir sulit tumbuhdalam etanol 20% ke atas, tidak beracun, netral, dan etanol dapat bercampurdengan air pada segala perbandingan, serta panas yang diperlukan untukpemekatan lebih rendah. Etanol dapat memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut dan tidak mengakibatkan pembengkakan membran sel. Keuntungan lainnya adalah sifatnya yang mampu mengendapkan albumin dan menghambat kerja enzim.  
   Keuntungan soxhletasi yaitu dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang lunak dan tidak tahan terhadap pemanasan secara langsung. Sedangakan kerugian dari soxhletasi yaitu ekstrak yang terkumpul pada wadah disebelah bawah terus-menerus dipanaskan sehingga dapat menyebabkan reaksi peruraian oleh panas. Jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam wadah dan membutuhkan volume pelarut yang lebih banyak untuk melarutkannya. Bila dilakukan dalam skala besar, mungkin tidak cocok untuk menggunakan pelarut dengan titik didih yang terlalu tinggi.
            Keuntungan dari perkolasi yaitu Tidak terjadi kejenuhan dan pengaliran meningkatkan difusi (dengan dialiri cairan penyari sehingga zat seperti terdorong untuk keluar dari sel). Sedangkan kerugian dari perkolasi yaitu cairan penyari lebih banyak resiko cemaran mikroba untuk penyari air karena dilakukan secara terbuka.
   Dari Praktikum yang dilakukan diperoleh hasil % ren damen dari ekstraksi daun raja dengan menggunakan metode soxhletasi yaitu 6,507%. Sedangkan pada metode perkolasi yaitu 14,68%. Dari hasil yang diperoleh maka dapat di tarik kesimpulan bahwa metode ekstraksi yang lebih banyak mengkasilkan ekstrak yaitu dari metode perkolasi.
BAB VI
PENUTUP
A.   Kesimpulan
   Dari Praktikum yang dilakukan diperoleh hasil % rendamen dari ekstraksi daun raja dengan menggunakan metode soxhletasi yaitu 6,507%. Sedangkan pada metode perkolasi yaitu 14,68%. Dari hasil yang diperoleh maka dapat di tarik kesimpulan bahwa metode ekstraksi yang lebih banyak mengkasilkan ekstrak yaitu dari metode perkolasi.
B.   Saran
Sebaiknya dalam praktikum semua anggota kelompok ikut bekerja



Daftar Pustaka
Abdul Rohman, Kimia Farmasi Analisis (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007).

Anonim. (2007). Sirih Merah Turunkan Glukosa Darah. Diakses 25 Maret 2010

Ansel,H.C., (1989). Pengatar Bentuk sediaan Farmasi. Edisi 4. UI Press. Jakarta

Depkes RI. (1979). Materia Medika Indonesia. Jilid IV. Cetakan Pertama. Jakarta
Ditjen POM, (1986), Sediaan Galenik, Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta.

Harborne,J.B, 1984.Phitochemical Method. Chaman and Hall Itd : London
Rohman, Abdul. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Sulaiman, T.N.S. (2007). Teknologi dan Formulasi Sediaan Tablet, Cetakan Pertama. Yogyakarta: Mitra Communications Indonesia.

Tobo,F. mufidah, dkk, (2001),”Buku pegangan laboratorium fitokimia 1”, Unhas :  Makassar


















LAMPIRAN
Perhitungan

% Rendamen ekstrak soxhletasi             =
                                                           =
                                                           = 6,507 %

% Rendamen ekstrak perkolasi   =
                                                           =
                                                           = 14,68 %